Berita Terbaru

KUNJUNGAN SEJARAH KE WATU GILANG DAN MAKAM TAMBALAN DENGAN BERSEPEDA

December 16, 2021 | SMP NEGERI 1 PANDAK

 

SISWA PANSA MEMINANG CINTA LELUHUR & PEJUANG  KITA

KUNJUNGAN SEJARAH FORUM ANAK KE WATU GILANG DAN MAKAM TAMBALAN DENGAN BERSEPEDA

Bangsa yang besar senantiasa mengenang perjuangan para pendahulu, para pejuang bangsa. Cinta tanah air sebagian dari iman. Yang jelas sebagai warga Indonesia yang baik selalu mengamalkan sila Pancaila, salah satunya cinta tanah air dan bangsa. Kapanewon Pandak mengapresiasi perjuangan para pendahulu dengan menanamkan karakter cinta tanah air yang dilakukan dengan program Kunjungan Sejarah Forum Anak ke Watu Gilang dan Makam Tambalan. Kegiatan tersebut sangat sinkron dengan program pembentukan profil pelajar Pancasila khususnya poin kedua yaitu berkebhiniekaan global.  Dalam hal ini pelajar harus memiliki wawasan kebhinekaan global yang salah satunya mengenal dan menghargai budaya. Budaya sebagai hasil budidaya manusia mencakup  peninggalan sejarah seperti Makam Tambalan dan Watu Gilang.

Kapanewon Pandak mengadakan kegiatan Kunjungan Sejarah Forum Anak ke Watu Gilang dan Makam Tambalan. Kegiatan diikuti o;eh siswa-siswi dari empat sekolah menengah pertama di Kapanewon Pandak, yaitu SMP 1 Pandak, SMP 2 Pandak, SMP 3 Pandak, dan SMP 4 Pandak. Masing-masing sekolah mengirimkan sepuluh siswa dengan satu guru pendamping.

Sesuai jadwal dalam undangan, peserta hadir di Pendopo Kapanewon Pandak pukul 08.30 dengan mengendarai  sepeda. Adapun perwakilan dari SMP 1 Pandak ( Pansa) meliputi Zhafran Rasya Ardana, Maga Arya Pratama, Lakaisa Azzam H.F., Adis Nur Ihsan R., Erli Pudrli Pudyawati, M Wira Manggala, Mahesti Fanesa M., Nayoko Adibroto, Febrianti  Rarasati, Az Zahra Faiza  Putri, dan Hariyono, S.Pd selaku pendamping.

Setelah peserta berkumpul, mereka diberikan pengarahan dan dibuka dengan berdoa.  Kunjungan dilakukan diawali dengan berkunjung ke Makam Tambalan terlebih dahulu.  Makam Tambalan terletak di dusun Tambalan Kauman, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, DIY. Seperti namanya, situs yang menempati tanah milik Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat (sultan ground) seluas 6700 m² ini terletak di atas pegunungan/bukit kecil bernama Gunung Tambalan. Bagian bawah situs dikelilingi oleh permukiman penduduk serta area persawahan yang membentang luas, menjadikan Gunung Tambalan terlihat indah dan menawan dari kejauhan.

Sesampai di sana peserta kunjungan memasuki Makam Tambalan sesuai aturan yang disampaikan juru kunci, dan tetap prokes. Juru kunci yaitu  Mbah Jadi mendampingi  pengunjung menikmati suasana makam dan mendengarkan penjelasan juru kunci mengenai asal mula Gunung Tambalan. Gunung Tambalan disebut juga miniature Gunung Merapi menurut salah satu versi cerita. Versi cerita yang lain misalnya Penamaan Tambalan diambil dari sosok bernama Kyai Tambal. Ia merupakan abdi dalem kesayangan yang membantu perjuangan Pangeran Puger dalam mempertahankan Keraton Plered dari Pemberontakan Trunajaya (1677). Atas jasanya itu, Kyai Tambal diangkat menjadi penghulu kerajaan dan setelah wafat dimakamkan di bukit yang kemudian dinamakan Tambalan. Pangeran Puger sendiri memiliki nama asli Raden Mas Darajat. Ia adalah putra Amangkurat I, raja terakhir Mataram, dari permaisuri kedua yaitu Kanjeng Ratu Wetan. Kelak pada tahun 1704 Pangeran Puger naik tahta menjadi Raja Kasunanan Kartasura dan bergelar Sri Susuhunan Paku Buwana I.Pengunjung termasuk siswa Pansa antusias mendengarkan cerita tersebut. Acara diakhiri dengan berdoa untuk mendoakan para leluhur yang telah wafat termasuk almarhum bupati kedua Bantul  yaitu, Raden Tumenggung Jayadiningrat.

Setelah selesai rombongan melanjutkan kunjungan ke Watu Gilang. Watu Gilang sebagai salah satu situs sejarah di Bantul, tepatnya terletak di Dusun Kauman, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul, Yogyakarta. Rombongan sampai di lokasi dan disambut dengan baik oleh Juru Kunci. Juru Kunci menerangkan silsilah situs Watu Gilang. Menurut Beliau Watu gilang adalah peninggalan Danang Sutawijaya yang tak lain adalah raja pertama Mataram Islam. Berupa batu besar layaknya sajadah, dimana Danang Sutawijaya dan Ki Ageng Pemanahan yang tak lain adalah gurunya menggunakan batu ini untuk ibadah.

Rombongan pengunjung antusias mendengarkan sejarah Watu Gilang. Setelah itu  mereka kemudian mendapatkan kuis. Salah satu kuis berupa pertanyaan tentang siapa yang meninggalkan bagunan  sejarah Watu Gilang.  Para siswa menjawab dengan antusias termasuk siswa Pansa. Seperti di Makam Tambalan kegiatan kunjungan di Watu Gilang diakhiri dengan doa bersama untuk leluhur dan keselamatan bersama, bangsa Indonesia jaya.

Itulah serangkaian kunjungan sejarah yang mampu menimbulkan perasaan cinta,   di hati pelajar Pansa pada leluhur kita. Bapak Hariyono berharap  semoga kunjungan bermakna tersebut  mampu meningkatkan kualiatas profil pelajar Pancasila di lingkup pelajar Kapanewon Pandak pada umumnya dan pelajar Pansa khususnya terhadap peninggalan sejarah serta budaya bangsa. Semoga generasi muda senantiasa handarbeni, mengapresiasi peninggalan sejarah dan budaya bangsa sehingga tetap lestari sepanjang hari.








Pengumuman Sekolah

Arsip Postingan

Memuat arsip...